Hate The Rain
oleh: Karunia Widhiyanti
oleh: Karunia Widhiyanti
Tetesan air dari langit yang
datangnya tak pernah terduga, kadang dia datang begitu lama sampai seseorang
menangis membutuhkannya, namun tidak dengan aku, terlalu banyak kenangan dan
kesakitan yang tercipta karena hujan, dan kini aku benci hujan.
Hari ini langit menghitam terlihat
di pekarangan sekolahku, hal yang biasa karena sekarang sedang musim penghujan,
tetesan benih airnya mulai turun dari atas langit kejauhan sana. Semua yang
berada di luar kelas kini masuk ke dalam ruangan membuat kelaspun menjadi
sempit dan ramai karena suara anak-anak yang tak bisa diam, itulah kebiasaan
ketika belum ada guru pengajar masuk.
mata pelajaran terakhir telah
dimulai, walaupun pembelajaran agak terganggu dengan curah hujan, namun bu guru
tetap melanjutkan belajar sampai bel pulang sekolah.
Musim penghujan benar-benar
menghambat aktivitasku, hujan tak berhenti sampai pulang sekolah tiba, kini aku
harus berjalan ke depan halte sekolah, namun ketika kakiku baru melangkah
keluar kelas tiba-tiba terlihat Aldi, kakak kelasku berdiri di luar seperti
sedang menunggu seseorang. Dan dia menyapaku rupanya.
“hay Nia, mau ga pulang bareng kakak ?” sapa Aldi dengan tiba-tiba
“hay Nia, mau ga pulang bareng kakak ?” sapa Aldi dengan tiba-tiba
Perasaan tak diduga saat itu, aku memang
sedang dekat dengan Aldi, tapi selama kedekatanku tak pernah ku berfikir dia
akan seberani itu langsung mengajakku pulang bersamanya.
“Tapi ka, sekarang hujan aku harus
pulang sampai hujan berhenti.”
“Gapapa Ni, kakak bakal tunggu kamu
sampe hujan berhenti biar bisa pulang bareng kamu.”
Beberapa kali aku menolak, namun
Aldi tetap memaksa untuk menunggu.
akhirnya aku menunggu hujan berhenti bersama Aldi. Lama sekali sampai suasana sekolah sepi mungkin hanya kita berdua disitu.
akhirnya aku menunggu hujan berhenti bersama Aldi. Lama sekali sampai suasana sekolah sepi mungkin hanya kita berdua disitu.
Dikeadaan suasana yang sepi,
romantis dan hanya kita berdua duduk di depan kelas dengan memandang hujan
turun, tiba-tiba Aldi membalut tanganku dengan tangannya lalu tatapan tajam
keluar dari matanya menatapku dengan keseriusan.
“Ni, kakak sayang kamu, mau ga kamu
jadi pacar kakak ?"
Tanpa berbasa-basi Aldi menyatakan
cinta padaku, aku sontak kaget, dan tak pernah terfikirkan.
“Tapi kak, kita kan baru kenal.”
“Tapi kakak sayang sama kamu,
mungkin terlalu cepat apa yang kakak katakan, jangan lihat seberapa lama waktu
kita bertemu dan mengenal, lihatlah ketulusan kakak.”
Melihat tatapan matanya terasa ada
ketulusan, dan disitu aku benar-banar luluh dengan perkataannya.
“Baiklah, sebenarnya aku juga sayang
sama kakak.”
“Jadi sekarang kita pacaran?”
Dengan malu-malu Nia menjawab.
“Ya, kita pacaran.”
Tanpa befikir panjang, Aldi langsung
memeluknya, pelukan hangat pertama yang Nia rasakan dari seorang kasih yang
amat ia sayang sekarang.
Perbincangan yang cukup lama dan
tidak membosankan membuat hari semakin sore dan gelap tanpa hujan berhenti aku
dan Aldi memutuskan untuk pulang.
masih terasa rintikan hujan yang tak henti motor Aldi melaju kencang menuju arah rumahku, disaat perjalanan Aldi menarik erat tanganku, membalutnya kelingkar pinggangnya, terasa sekali ada perasaan berbeda dihatiku. Getaran cinta yang terasa semakin yakin bahwa dia akan menjadi kekasih terindahku.
masih terasa rintikan hujan yang tak henti motor Aldi melaju kencang menuju arah rumahku, disaat perjalanan Aldi menarik erat tanganku, membalutnya kelingkar pinggangnya, terasa sekali ada perasaan berbeda dihatiku. Getaran cinta yang terasa semakin yakin bahwa dia akan menjadi kekasih terindahku.
Laju Kecepatan motor yang kencang,
membuat tanganku semakin erat memegang lingkaran pinggang Aldi, dan tanpa
terasa seperti ada suara gesekan ban dengan aspal yang sangat keras, membuat
telinga terasa sakit untuk mendengarnya, lontaran dan suara jeritan terdengar
samar-samar lagi semuanya terasa gelap dan hilang, namun rasa sakit di tubuh
ini sangat terasa.
·
****
Saat mata masih terpejam mata rapat,
namun pikiranku terasa hidup kembali, membayangkan gesekan ban motor yang
kencang lalu mengingatkanku pada Aldi, ingin aku teriak dan memanggil namanya
namun susah dan sakit sekali, pelahan ku membukakan mata dengan susah payah, ku
lihat disekelilingku terdapat Ayah dan Bunda yang menggemgam erat tanganku, dan
beberapa keluarga, teman dekat lainnya rupanya mereka sudah menanti kesadaranku
namun hanya satu yang tak terlihat Aldi, dimana dia ? aku benar benar
merindukannya ? ingin melihat wajahnya, semuanya tentang dia?
Ayah dan Bundapun langsung
menanyakan keadaanku.
“Bagaimana keadaanmu sayang.”
ku jawab dengan terpatah-patah
ku jawab dengan terpatah-patah
“Sakit, pusing. Dimana Aldi bun ?”
namun Bunda diam saja, aku yakin mungkin Bunda belum mengenal Aldi karena kita baru jadian dan aku belum sempat mengenalkannya pada Bunda.
namun Bunda diam saja, aku yakin mungkin Bunda belum mengenal Aldi karena kita baru jadian dan aku belum sempat mengenalkannya pada Bunda.
Lalu Lusi mendekat mengahampiriku,
dia sahabat dekatku. Berkata sambil membelaiku penuh rasa kasihan.
“Ni, kamu yang sabar yah.”
“Ada apa sih Lus, ayo critain apa
yang terjadi ?” kepala ku mendadak pusing
“Aldi sudah tenang disana, kamu gausah khawatir.”
“Tenang dimana Lus, Aldi baik-baik saja kan ?”
“Aldi sudah tenang disana, kamu gausah khawatir.”
“Tenang dimana Lus, Aldi baik-baik saja kan ?”
Tiba-tiba Bunda juga ikut
membelaiku, Lusi dan bunda ikut mengeluarkan air matanya.
“Nia, Aldi ga bisa selamat. Tapi
Bunda bersyukur kamu masih bisa bertahan sayang.”
Perkataan Bunda tadi serasa langsung
menusuk paru-paruku, membuatku ingin berhenti bernafas saja, otakku tak bisa
berfikir jernih lagi. membuatku ingin lari dan memeluk Aldi. Pelahan-lahan
semuanya kembali normal, dan ku keluarkan air mata yang sejak tadi rasanya ku
tahan.
* * *
Kini ku lari dan ku lihat disana
Aldi sudah tak berdaya, tubuhnya memar dan bekas darah yang masih memerah
terlihat disekujur tubuhnya, namun dia tetap Aldi yang aku sayang, dia tetap
terindah untukku.
Ingin ku menyalahkan diriku atas
semua ini, rasanya benar-benar aku ingin sekali menolak takdir ini, dibalik
semua itu aku terfikirkan jalan aspal yang licin dan gesekan ban yang kencang
dan itu semua dibuat oleh hujan. Dan hujan telah menjadi saksi cintaku dengan
Aldi, mengingatkanku pada semua tentang Aldi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar